IPMKN-Y

IPMKN-Y

Wednesday, 3 August 2011

IPMKRKN-Y / IPMKN - Y

By IPMKN-Yogyakarta  |  4:25:00 pm No comments

  1. IPMKN-Y DAN SEJARAH
Runtuhnya rezim totaliter-otoriter Orde Baru membawa konsekuensi logis terhadap perubahan sistem dan struktur politik di negeri ini. Hubungan antara pusat dan daerah yang selama ini diterjemahkan secara sentralistik kini bergeser kepada hubungan yang lebih menekankan aspek loakalitas masing-masing daerah. Terlepas dari pelaksanaan dari konsep diatas justru menimbulkan kompleksitas permasalahan yang luar biasa. Ada sebuah kejadian yang mungkin jika diukur dengan indikator sejarah nasional, ini bukanlah sebuah peristiwa yang besar tapi justru menjadi catatan tersendiri bagi siapa saja yang pada masa itu menjadi pelaku sejarah Organisasi etnis ini.
Pada suatu hari yang biasa anak-anak etnis yang juga terhinggapi eforia reformasi marapatkan barisan dengan harapan mereka bisa membentuk suatu wadah dan sekaligus instrument guna mewarnai sejarah hari ini, pada tanggal 22 Oktober tahun 2000, bertempat di Asrama Putra Riau di Jalan Bintaran lahirlah sebuah organisasi yang mereka beri nama Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Natuna (IPMKN) Yogyakarta. IPMKN Yogyakarta tidaklah lahir secara serta merta, jauh sebelum itu pembacaan akan perlunya sebuah organisasi untuk mewadahi kreatifitas, intlektualitas dan segala potensi yang dimiliki oleh segenap utusan daerah yang tengah menuntut ilmu di Yogyakarta. Gagasan akan perlunya organisasi tersebut sempat terpikirkan bahkan sudah masuk dalam usaha pembentukan. Namun mereka akhirnya belum berhasil mencetuskan organisasi itu, barulah lewat Tim Perintis yang beranggotakan ; Alias Kadir, Nurhakim, Santi, Edra Zulhendri, Yandri Budi Karseno, Subbihi, Yetti, Lukman, Yana, Hendriyana, Budirianto, Mat Nazar, Nelly Syafitri, Hendri Wahyudi, Faturahman, Reza ivanda, Juni, ada beberapa nama yang ikut andil namun karena keterbatasan waktu serta dokumentasi nama mereka tidak tercatat.
  1. IPMKN DALAM KONTEKS KEKINIAN
“Kita Boleh Saja Sekolah Setinggi-Tingginya, Namun Apabila Kita Tidak Berkarya Maka Kita Akan Hilang Dari Sejarah Dan Masyarakat” (Pramoedya Ananta Toer). Kutipan kata bersayap diatas menyisakan beberapa catatan penting yang sekaligus menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab dan segera dijawab. Pertama, tarikan panjang perjalanan organisasi yang bersandarkan pada ruh senasib dan seperjuangan di negeri rantau ini sudah melewati beberapa fase yang justru menjauhkan kita dari cita-cita mulia organisasi ini sebagaimana yang termaktub dalam konstitusi dasar AD/ART IPMKN Yogykarta. Kedua, kita belum beranjak dari buaian eforia ritual ceremonial-formal yang justru memisahkan kita dari elemen penting system social yaitu masyarakat. Ketiga, sudahkah organisasi ini melahirkan kader-kader yang peka terhadap kondisi dan realitas social hari ini.
Perubahan adalah praktek, perubahan tidak lagi dimaknai dengan sederetan teori usang yang lagi-lagi justru tidak pernah menyelesaikan permasalahan. Perubahan juga bukan sekedar retorika elit politik, dan actor perubahan. Tugas agen perubahan adalah menyusun penjelasasn sistemik mengenai pembongkaran system dan struktur social yang pincang dan bobrok hari ini. Apa yang sudah disepakati lewat arah kebijakan yang bernaung di bawah tema besar “Sosial-Kemasyarakatan” yang lahir karena kegelisahan kita semua, adalah hal kecil yang coba untuk kita lakukan, yang mungkin belum mampu menjawab catatan penting, yang
juga menjadi pertanyaan besar diatas. Tetapi paling tidak biarkan dia menjadi jalan untuk menjawab semua hal diatas.
Berbicara tentang IPMKN Yogyakarta, tentu saja layaknya kultur organisasi mahasiswa lainnya, hal yang paling utama adalah kita akan dihadapkan akan sebuah kenyataan betapa menarik organisasi ini. Disatu sisi, kondisi legal-formal tentu saja akan kita temui disini. Namun disisi lain sebuah kondisi yang boleh dibilang tradisional pun akan kita jumpai disini. Layaknya sebuah bangunan IPMKN-Y adalah sebuah rumah yang ditopang oleg tiang-tiang yang diterjemahkan lewat Wilayah-wilayah. Perbedaan latar belakang kultural inilah yang apabila tidak disikapi dengan baik, justru membuat IPMKN tidak pernah beranjak pergi dari persoalan yang ada.
Stigma negatif tentang sekumpulan anak-anak yang bergantung pada APBD dan kemurahan hati elit daerah, kerap membuat panas telinga ini, namun selaku mahasiwa kami tidak begitu saja larut dalam emosi, evaluasii sejauh mana indikasi kebenaran statement diatas karap kami lakukan, kesimpulannya IPMKN Yogyakarta bukan organisasi opurtunis yang yang kerjanya hanya menghabiskan uang daerah. Kami adalah calon pemegang estafet kepemimpinan, garda depan perubahan bangsa yang tidak dapat dipungkiri kami juga anak-anak muda yang labil yang tengah mencari jati diri. Banyak hal positif yang sudah kami lakukan yang justru menggugurkan anggapan miring tentang kami. Dalam bidang olah raga misalnya, IPMKN Yogyakarta adalah kawan sekaligus lawan yang sangat disegani, karena prestasi yang seringkali kami ukir, dalam konteks kekinian kami juga berusaha berbenah diri, menyiapakan kader yang tidak lagi nanti lahir justru dipersiapkan untuk mengisi post-post kekuasaan yang korup. Kami juga sepakat tarikan panjang dedikasi ini akan kami persembahkan untuk mewujudkan masyarakat Natuna yang adail dan makmur.
Melalu kompetisi Futsal kami ingin membangun rasa persaudaraan sosial masyarakat,agar terjalin kerja sama yang baik terhadap generasi muda serta mampu membuat kegiatan yang positif.

Author: IPMKN-Yogyakarta

Author, IPMKN Yogyakarta adalah organisasi yang mewadahi Pelajar-Mahasiswa Kabupaten Natuna yang menuntut ilmu di Yogyakarta..

0 comments:

E-mail Newsletter

Recent Articles

TOP